Syukuran Sasi Ruah (Nyadran) sekaligus menyambut Bulan Suci Ramadhan

Nyadran (12/04/2021)

Nyadran – Menjelang bulan Ramadan, umat muslim mulai mempersiapkan diri untuk menyambut ibadah puasa. Salah satu yang dilakukan umat Muslim di Indonesia adalah berziarah ke makam keluarga ataupun leluhur.

Tradisi ziarah atau kerap disebut nyekar ini bisa dilihat dari dipenuhinya sejumlah pemakaman sejak seminggu sebelum bulan puasa dimulai.

Nyadran biasanya dilaksanakan untuk menyambut bulan suci umat Islam. Rangkaiannya Kenduri biasanya diisi dengan pembersihan makam dari kotoran dan rerumputan yang berada di sekitar makam. Dalam Bahasa Jawa, bersih-bersih makam ini dikenal dengan istilah Besik.

Usai membersihkan makam, dilakukan pembacaan Al-Quran, zikir, tahlil dan doa yang kemudian ditutup dengan makan bersama sanak keluarga. Tradisi Nyadran sendiri bisa dibilang berupa budaya daerah, bukan tradisi Islam.

Umumnya, tradisi ini masih diselenggarakan masyarakat Jawa Tengah seperti di Desa Pandansari, Kec. Kejobong, Kab. Purbalingga dan wilayah Jawa Tengah lainnya.

Acara makan bersama diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Meski jenisnya merupakan budaya, Nyadran juga dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

Tradisi ini terbilang sudah turun temurun diselenggarakan di daerah Jawa Tengah. Sebagian masyarakat percaya, mendoakan sanak keluarga ataupun leluhur baik dilakukan untuk ketenangan arwah orang yang telah meninggal.

Selain itu, manfaat ziarah juga sekaligus mengingatkan tentang kematian. Dengan berziarah, umat Muslim diingatkan kembali tentang akhir kehidupan dan keseimbangan hidup di dunia untuk mencari bekal berkah di akhirat nantinya.

Sebagai salah satu tradisi puasa yang unik, Nyadran di setiap daerah Jawa Tengah menjadi event tersendiri. Acara makan bersama menjadi ajang silaturahmi menjelang Ramadan yang mencuri perhatian.

Kebersamaan warga menjadi momen yang dinanti-nantikan.

Leave a Reply